Jumat, 03 Mei 2013

judulz-judulan 2013/05/13





A.
Judul Penelitian
:
Penerapan Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair Share (TPS) dengan Praktikum Terhadap Hasil Belajar Pengetahuan Pemahaman Konsep Biologi Siswa Kelas VII SMPN 1 Siak Hulu Tahun Ajaran 2012/2013
B.
Peneliti/NPM
:
SALIM/ 096512327
C.
Pendahuluan


1. Latar Belakang Masalah
            Pendidikan merupakan usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan latihan bagi peranannya dimasa yang akan datang (Hamalik, 2008). Salah satu masalah yang di hadapi dunia pendidikan kita adalah masalah lemahnya proses pembelajaran. Dalam proses pembelajaran, anak kurang didorong untuk mengembangkan kemampuan berpikir. Proses pembelajaran di dalam kelas diarahkan kepada kemampuan anak untuk menghafal informasi dan otak anak dipaksa untuk mengingat dan menimbun berbagai informasi tanpa dituntut untuk memahami informasi yang diingatnya itu untuk menghubungkannya dengan kehidupan sehari-hari (Sanjaya, 2008).
            Dalam usaha pencapaian tujuan belajar perlu diciptakan adanya sistem lingkungan (kondisi) belajar yang lebih kondusif. Hal ini akan berkaiatan dengan mengajar. Mengajar dapat diartikan sebagai suatu usaha penciptaan sistem lingkungan yang memungkinkan terjadinya proses belajar. Sistem lingkungan dipengaruhi oleh berbagai komponen yang masing-masing akan saling mempengaruhi. Komponen-komponen itu diantaranya tujuan pembelajaran yang ingin dicapai, materi yang ingin diajarkan, guru dan siswa yang memainkan peran serta dalam hubungan sosial tertentu, jenis kegiatan yang dilakukan serta sarana dan prasarana belajar mengajar yang tersedia (Sardiman, 2009). Guru merupakan suatu pekerjaan profesional, yang menuntut persyaratan guru dapatan keahlian dalam bidang pendidikan. Dengan keahlian itu, guru dapat menjadikan dirinya berdasarkan hati nuraninya sendiri terhadap kepentingan masyarakat konsep berfiikir (Hamalik, 2007).
Hasil wawancara dan observasi peneliti dengan guru bidang studi biologi kelas VII SMPN 1 Siak Hulu bahwa permasalahan dalam pelajaran biologi yaitu: 1) Siswa banyak yang tidak memperhatikan penjelasan materi yang disampaikan guru. 2) Siswa kurang aktif dalam proses KBM yang ditandai dengan jarangnya siswa yang bertanya dan lebih banyak diam ketika ditanya. 3) Guru lebih sering menggunakan metode ceramah dalam KBM. 4) Belum pernah diterapkan model pembelajaran kooperatif tipe TPS dengan menggunakan praktikum oleh guru di kelas VII SMPN 1 Siak Hulu. 5) Banyak nilai siswa yang di bawah KKM yang di tentukan sekolah yaitu 67 dengan ketuntasan klasikal 45%.
Guru perlu melakukan upaya perbaikan untuk mengatasi masalah di atas. Salah satunya dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS). Trianto (2010), strategi Think Pair Share merupakan jenis pembelajaran kooperatif  yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa dan merupakan suatu cara yang efektif untuk membuat variasi suasana pola diskusi kelas. Selain pentingnya model pembelajaran TPS, praktikum juga merupakan metode yang dapat digunakan untuk mengimplementasikan teori dengan kegiatan praktek yang menggunakan alat-alat tertentu, dalam hal ini guru melatih keterampilan siswa dalam penggunaan alat-alat yang telah diberikan kepadanya serta hasil yang dicapai mereka (Yamin, 2009).
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul: Penerapan Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair Share (TPS) dengan Menggunakan Praktikum terhadap Hasil Belajar Pengetahuan Pemahaman Konsep Biologi Siswa Kelas VII SMPN 1 Siak Hulu Tahun Ajaran 2012/2013.

2.      Identifikasi Masalah
            Berdasarkan latar belakang masalah, masalah yang teridentifikasi sebagai berikut:
1)      Siswa banyak yang tidak memperhatikan penjelasan materi yang disampaikan guru.
2)      Siswa kurang aktif dalam proses KBM yang ditandai dengan jarangnya siswa bertanya dan lebih banyak diam ketika ditanya.
3)      Guru lebih sering menggunakan metode ceramah dalam KBM.
4)      Belum pernah diterapkan model pembelajaran kooperatif tipe TPS dengan menggunakan praktikum oleh guru di kelas VII SMPN 1 Siak Hulu.
5)       Banyak nilai siswa yang dibawah KKM yang ditentukan sekolah yaitu 67 dengan ketuntasan klasikal 45%.

3. Pembatasan Masalah
Agar penelitian ini lebih terarah dan terfokus maka peneliti perlu memberi batasan masalah. Batasan masalah ini akan dilaksanakan pada mata pelajaran biologi, yaitu pada Standar Kompetensi 7, yaitu memahami saling ketergantungan dalam ekosistem, Kompetensi Dasar yaitu: 7.1 Menentukan ekosistem dan saling berhubungan antara komponen ekosistem dan 7.2 Mengidentifikasi pentingnya keanekaragaman makhluk hidup dalam pelestarian ekosistem.

4.  Perumusan Masalah
            Berdasarkan latar belakang  diatas maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut : “ Bagaimanakah Hasil Belajar Pengetahuan Pemahaman Konsep Biologi Siswa kelas VII SMPN 1 Siak Hulu Tahun Ajaran 2012/2013 setelah diterapkan Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair Share (TPS) dengan Pratikum?”

5. Tujuan dan Manfaat Penelitian
5.1.  Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah dan batasan masalah maka, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hasil belajar pengetahuan pemahaman konsep biologi siswa kelas VII SMPN 1 Siak Hulu Tahun Ajaran 2012/2013



5.2.  Manfaat Penelitian
Adapun manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut:
1)   Bagi siswa, meningkatkan hasil belajar biologi siswa kelas VII dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TPS dengan praktikum.
2)   Bagi guru, khususnya guru biologi di SMPN 1 siak hulu dapat menambah ilmu pengetahuan dan sebagai alternatif untuk menciptakan suasana pembelajaran yang bersifat aktif dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TPS dengan praktikum.
3)   Bagi sekolah, sebagai bahan masukan dan bahan pertimbangan dalam menentukan strategi pembelajaran yang baik untuk meningkatkan mutu pendidikan di sekolah.
4)   Bagi peneliti, menambah wawasan dan pengetahuan peneliti dalam dunia pendidikan mengenai model pembelajaran kooperatif tipe TPS dengan praktikum.

6. Defenisi Istilah judul
            Definisi istilah judul ini ditulis untuk menghindari berbagai kesalahan pemahaman tentang judul penelitian, maka definisi istilah judul ini adalah:
            Pembelajaran Kooperatif adalah suatu strategi pengajaran sukses dalam regu kecil, masing-masing regu dengan siswa dari tingkat kemampuan yang berbeda, menggunakan berbagai aktivitas belajar untuk meningkatkan pemahaman mereka pada suatu materi, masing-masing anggota regu bertanggung jawab tidak hanya untuk mempelajari suatu materi tetapi juga membantu kawan-kawan seregu belajar, yang menciptakan suasana untuk berprestasi (Aronson dalam sari, 2008).
            Model pembelajaran TPS adalah jenis pembelajaran kooperatif yang efektif untuk membuat variasi suasana pola diskusi kelas. Dengan asumsi bahwa semua resitasi atau diskusi membutuhkan pengetahuan untuk mengendalikan kelas secara keseluruhan dan memberi siswa untuk lebih banyak berpikir, untuk merespon dan saling membantu (Trianto, 2010)
            Praktikum adalah bagian dari pengajaran yang bertujuan agar siswa mendapat kesempatan untuk menguji dan melaksanakan dalam keadaan nyata, apa yang diperoleh dari teori dan pelajaran praktek (Depdiknas dalam Nurhasanah 2009).
            Hasil belajar adalah kemampuan siswa dalam memenuhi sesuatu tahapan pencapaian pengalaman belajar dalam suatu kompetensi dasar (Kunandar, 2007).

D. Tinjauan Teori dan Hipotesis Tindakan
1. Tinjauan Teori
1.1  Teori Konstruktivisme dalam Pembelajaran Sains
          Konstruktivis merupakan landasan berpikir (filosofi) pendekatan kontekstual yaitu pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas (sempit), dan tidak sekonyong-konyong. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep, atau kaidah yang siap untuk diambil atau diingat. Manusia harus mengkontruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata (Elfis, 2010a).
          Teori konstruktivisme ini menyatakan bahwa siswa harus menemukan sendiri dan mentransformasikan informasi kompleks, mengecek informasi baru dengan aturan-aturan lama dan merevisinya apabila aturan-aturan itu tidak lagi sesuai. Bagi siswa agar benar-benar memahami dan dapat menerapkan pengetahuan ,mereka harus bekerja memecahkan masalah, menemukan segala sesuatu untuk dirinya, berusaha dengan susah payah dengan ide-ide (Slavin dalam Trianto, 2010).
Menurut Trianto (2010) prinsip-prinsip dari konstruktivisme, yaitu:
1)   Pengetahuan dibangun oleh siswa secara aktif
2)   Tekanan dalam proses belajar terletak pada siswa
3)   Mengajar adalah membantu siswa belajar
4)   Tekanan dalam proses belajar lebih pada proses bukan pada hasil akhir
5)   Kurikulum menekankan partisipasi siswa
6)   Guru sebagai fasilitator
Sanjaya (2009), menyatakan bahwa konstruktivisme adalah proses membangun atau menyusun pengetahuan baru dalam struktur kognitif siswa berdasarkan pengalaman. Pengetahuan ini bukan terbentuk hanya dari objek semata, tetapi juga dari kemampuan individu sebagai subjek yang menangkap setiap objek yang diamatinya. Menurut konstruktivisme, pengetahuan ini memang berasal dari dari luar, akan tetapi akan dikonsturksikan oleh dan dari dalam diri seseorang. Oleh sebab itu pengetahuan terbentuk  oleh dua faktor penting, yaitu objek yang menjadi bahan pengamatan dan kemampuan subjek untuk menginterprestasikan objek tersebut.
Elfis (2010a) menyatakan bahwa ada tujuh prinsip dasar konstruktivisme yang harus dipegang guru dalam praktek pembelajaran, yaitu:
1)   Proses pembelajaran lebih utama dari pada hasil pembelajaran.
2)   Informasi bermakna dan relevan dengan kehidupan nyata siswa lebih penting dari pada informasi verbalis.
3)   Siswa mendapat kesempatan seluas-luasnya untuk menemukan dan menerapkan idenya sendiri.
4)   Siswa diberikan kebebasan untuk menerapkan strateginya sendiri dalam belajar.
5)   Pengetahuan siswa tumbuh dan berkembang melalui pengalaman sendiri.
6)   Pengetahuan siswa akan berkembang semakin dalam dan kuat apabila diuji dengan pengalaman baru.
7)   Pengalaman siswa bisa dibangun secara asimilasi (yaitu pengetahuan baru dibangun dari struktur pengetahuan yang sudah ada) maupun akomodasi (yaitu struktur pengetahuan yang sudah ada dimodifikasi untuk menampung atau menyesuaikan hadirnya pengetahuan baru).

 

1.2  Pendekatan Inkuiri dalam Pembelajaran Sains

Inkuiri adalah belajar mencari dan menemukan sendiri. Dalam sistem belajar mengajar ini guru menyajikan bahan pelajaran tidak dalam bentuk yang final, tetapi anak didik diberi peluang untuk mencari dan menemukan sendiri dengan mempergunakan teknik pemecahan maslah (Djamarah dan Zain, 2006).

Inkuiri juga merupakan rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankan pada proses berfikir secara kritis dan analitis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang dipertanyakan. Proses berpikir itu sendiri biasanya dilakukan melalui tanya jawab antara guru dan siswa. Ada beberapa hal yang menjadi ciri utama pembelajaran inkuiri. 1) strategi inkuiri menekankan kepada aktivitas siswa secara maksimal untuk mencari dan menemukan, artinya strategi inkuiri menempatkan siswa sebagai subjek belajar. 2) seluruh aktivitas yang dilakukan siswa diarahkan untuk mencari dan menemukan sendiri dari sesuatu yang dipertanyakan, sehingga diharapkan dapat menumbuhkan sikap percaya diri. 3) tujuan dari penggunaan pembelajaran inkuiri adalah mengembangkan kemampuan berpikir secara sistematis, logis, dan kritis atau mengembangkan kemampuan intelektual sebagai bagian dari proses mental (Sanjaya, 2009).

Langkah-langkah menemukan (inquiri) adalah 1) merumuskan masalah, 2) mengamati atau melakukan observasi, 3) menganalisa dan menyajikan hasil dalam tulisan, gambar, laporan, bagan, tabel dan karya lainnya, 4) mengkomunikasikan atau menyajikan hasil karya pada pembaca, teman sekelas, guru atau audiens lainnya (Elfis, 2010a). 
Asas menemukan sendiri merupakan asas penting dalam pembelajaran kontekstual. Dengan proses berpikir yang sistematis ini diharapkan siswa memiliki sikap ilmiah, rasional, dan logis yang dapat dijadikan dasar pembentukan keaktifan siswa dalam pembelajaran (Elfis, 2010a).

 

1.3  Paradigma Pembelajaran IPA Biologi

Banyak yang salah paham tentang pelajaran biologi. Mereka sebagian besar mengatakan pelajaran biologi adalah pelajaran hafalan, jadi tidak perlu susah payah untuk belajarnya. Image tersebut datang bukan hanya dari kalangan praktisi di luar pelajaran IPA, tapi juga datang dari praktisi IPA sendiri yang kurang paham hakekat pembelajaran IPA khususnya Biologi. Jika peserta didik terbawa oleh paradigma “biologi adalah pelajaran hafalan”, maka akibatnya sangat fatal, antara lain: 1). pembelajaran biologi menjadi jalan di tempat, 2). logika sains yang di miliki biologi menjadi statis, 3). perkembangan biologi menjadi macet karena pembelajaran biologi disampaikan secara monoton dan  later lux harus sesuai dengan bahasa buk  (Ali, 2009).
            Mata pelajaran  IPA sebagai proses pembelajaran yang menekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar menjelajahi dan memahami alam sekitar secara alamiah. Pendidikan biologi diarahkan untuk inquiri dan berbuat sehingga dapat membantu peserta didik untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang alam sekitar. Oleh karena itu pembelajaran biologi menekankan pada pemberian pengalaman belajar secara langsung melalui penggunaan dan pengembangan keterampilan proses dan sikap ilmiah (Elfis, 2010b).
            Implikasi penting dalam pembelajaran biologi adalah (a) memusatkan perhatian pada berfikir atau proses mental anak, tidak sekedar pada hasilnya. (b) memperhatikan peranan inisiatif siswa, serta keterlibatan secara aktif dalam kegiatan pembelajaran. (c) memaklumi akan adanya perbedaan individual dalam hal kemajuan intelektual (Pieget dalam Elfis, 2010b)

1.4  Pembelajaran Kooperatif
            Pembelajaran kooperatif merupakan sebuah kelompok strategi pengajaran yang melibatkan siswa bekerja secara berkolaborasi untuk mencapai tujuan bersama. Pembelajaran kooperatif disusun dalam sebuah usaha untuk meningkatkan prestasi siswa, menfasilitasi siswa dengan pengalaman  sikap kepemimpinan dan membuat keputusan dalam kelompok, serta memberikan kesempatan pada siswa yang berbeda latar belakangnya (Trianto, 2010).
Model pembelajaran kooperatif ini tumbuh dari suatu tradisi pendidikan yang menekankan berpikir dan latihan bertindak demokratis, pembelajaran aktif, prilaku kooperatif, dan menghormati perbedaan dalam masyarakat multibudaya. Pembelajaran kooperatif ini menfokuskan pada pengaruh-pengaruh pengajaran selain pembelajaran akademik, khususnya menumbuhkan penerimaan antar kelompok serta keterampilan sosial kelompok (Ibrahim dkk, 2000).
Menurut Arsyad (2010), Pembelajaran kooperatif menciptakan tim-tim atau kelompok-kelompok yang bertanggung jawab untuk saling mengajar pengetahuan atau keterampilan khusus. Secara konseptual, siswa akan belajar lebih baik dan lebih banyak jika mereka harus bertanggungjawab untuk mengajarkan pesan atau informasi kepada yang lainnya.
Model pembelajaran kelompok adalah rangkaian kegiatan belajar yang dilakukan oleh siswa dalam kelompok-kelompok tertentu untuk mencapai pelajaran yang telah dirumuskan. Ada unsur penting dalam strategi pembelajaran kooperatif (SPK), yaitu : (1) adanya peserta dalam kelompok; (2) adanya aturan kelompok; (3) adanya upaya belajar setiap anggota kelompok; dan (4) adanya tujuan yang harus dicapai; (5) adanya penghargaan kelompok (Sanjaya, 2008).
Menurut Ibrahim dalam Trianto (2010), terdapat enam langkah utama  atau tahapan di dalam pelajaran yang menggunakan pembelajaran kooperatif, yaitu:
 Tabel 1. Sintaks model Pembelajaran Kooperatif
Fase
Tingkah Laku guru
Fase 1
Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa

Guru menyampaikan semua
pembelajaran yang akan dicapai pada pelajaran tersebut dan memotifasi siswa.
Fase 2
Menyajikan informasi

Guru menyampaikan informasi pada siswa dengan jalan demontrasi atau lewat bacaan.
Fase 3
Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok–kelompok belajar

Guru menjelaskan pada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien.
Fase 4
Membimbing kelompok bekerja dan belajar

Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mereka.
Fase 5.
Evaluasi

Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya.
Fase 6.
Memberikan penghargaan

Guru mencari cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok.
Unsur-unsur dasar pembelajaran kooperatif menurut Ibrahim, dkk (2000) adalah sebagai berikut:
1)      Siswa dalam kelompoknya haruslah beranggapan bahwa mereka sehidup sepenanggungan bersama.
2)      Siswa bertanggungjawab atas segala sesuatu di dalam kelompoknya, seperti milik mereka sendiri.
3)      Siswa haruslah melihat bahwa semua anggota di dalam kelompoknya memiliki tujuan yang sama.
4)      Siswa haruslah membagi tugas dan tanggungjawab yang sama antara anggota kelompoknya.
5)      Siswa akan dikenakan evaluasi atau diberikan penghargaan yang juga akan dikenakan untuk semua anggota kelompok.
6)      Siswa berbagi kepemimpinan dan mereka membutuhkan keterampilan untuk belajar bersama selama proses belajarnya.
7)      Siswa akan diminta bertanggungjawab secara individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif.
Kebanyakan pembelajaran yang menggunakan model kooperatif dapat memiliki ciri-ciri sebagai  berikut:
1)      Siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan materi belajarnya.
2)      Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang, rendah.
3)      Bila mana mungkin, anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku, jenis kelamin berbeda-beda.
4)      Penghargaan lebih berorientasi kelompok ketimbang individu.

1.5  Tujuan Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif ini tujuan pokoknya adalah memaksimalkan belajar siswa untuk peningkatan prestasi akademik dan pemahaman baik secara individu maupun secara kelompok, karena siswa bekerja dalam satu team, maka dengan sendirinya dapat memperbaiki hubungan di antara para siswa dari berbagai latar belakang etnis dan kemampuan, mengembangkan keterampilan-keterampilan proses kelompok dan pemecahan masalah (Trianto, 2010).  Pembelajaran kooperatif juga bertujuan untuk membina pelajar dalam mengembangkan niat dan kiat bekerja sama dan berinteraksi dengan pembelajaran yang lainnya (Lie, 2010).
Menurut Ibrahim dkk. (2000) model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai setidak-tidaknya tiga tujuan pembelajaran penting yaitu:
1)   Hasil belajar akademik
Belajar kooperatif bertujuan untuk meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-tugas akademik.
2)   Penerimaaan terhadap efek individu
Efek penting yang kedua dari model pembelajaran kooperatif ialah penerimaan yang luas terhadap perbadaan ras, suku, budaya, kelas social dan kemampuan maupun ketidakmampuan.
3)   Pengembangan keterampilan sosial
Lingkungan belajar untuk siswa dalam pembelajaran kooperatif dicirikan oleh proses peran aktif siswa dalam menentukan apa yang harus dipelajari dan bagaimana mempelajarinya. Guru menerapkan suatu stuktur timgkat tinggi dan mendefinisikan semua prosedurnya, namun siswa diberikan kebebasan dalam mengendalikan dari waktu kewaktu dalam kelompoknya.

1.5 Pembelajaran Kooperatif Tipe Tink Pair Share (TPS)
Pembelajaran Think Pair Share (TPS) adalah jenis pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk mengetahui pola interaksi siswa. Pembelajaran TPS dikembangkan oleh Frang Lyman dan koleganya di Universitas Maryland sesuai yang diungkapkan oleh Arends pada tahun 1977, TPS merupakan suatu cara yang efektif untuk membuat variasi suasana pola diskusi kelas, dengan asumsi bahwa semua resitasi dan diskusi membutuhkan pengaturan dalam mengendalikan kelas secara keseluruhan. Prosedur dalam TPS dapat memberi siswa banyak waktu berfikir, untuk merespon dan saling membantu (Trianto, 2009).
Menurut Ibrahim, dkk (2000) pembelajaran kooperatif Think Pair Share memiliki beberapa langkah-langkah sebagai berikut:
1)   Langkah 1: berfikir (Thinking)
Guru mengajukan suatu pertanyaan atan permasalahan yang dikaitkan dengan pelajaran, dan meminta siswa menggunakan waktu beberapa menit untuk berfikir sendiri jawaban atau masalah. Siswa membutuhkan penjelasan bahwa berbicara atau mengerjakan bukan bagian dari berfikir.
2)   Langkah 2: Berpasangan (pairing)
Selanjutnya guru meminta untuk berpasangan dan mendiskusikan apa yang telah mereka peroleh. Interaksi selama waktu yang disediakan dapat menyatukan jawaban jika suatu pertanyaan yang diajukan atau menyatukan gagasan apabila suatu masalah khusus yang diindentifikasi. Secara normal guru memberi waktu tidak lebih dari 4 atau 5 menit untuk berpasangan.
3)   Langkah 3: Berbagi (sharing)
Pada tahap akhir, guru meminta pasangan untuk berbagi dengan keseluruhan kelas tentang apa yang telah mereka bicarakan. Ini efektif dilakukan dengan cara bergiliran dari pasangan ke pasangan dan melanjutkan sampai sekitar bagian mendapat kesempatan untuk melaporkan.
1.6  Praktikum
Praktikum merupakan kegiatan terstruktur dan terjadwal yang memberi kesempatan kepada siswa untuk mendapatkan pengalaman yang nyata dalam rangka meningkatkan pemahaman siswa tentang teori atau agar siswa menguasai keterampilan tertentu yang berkaitan dengan suatu pengetahuan atau suatu mata pelajaran (Heru, 2010). Lebih lanjut Soemintapoera (2010), mengemukakan proses pembelajaran dalam bentuk praktikum diarahkan agar siswa memiliki kemampuan hard-skill dari materi yang diberikan. Dalam praktikum, siswa mendapat kesempatan untuk mempraktekkan secara langsung pengetahuan yang diperolehnya dari proses pembelajaran. Proses praktikum dilaksanakan dengan mengacu pada pedoman berikut ini:
1)      Menyelenggarakan diskusi interaktif mengenai problem aktual, dimana guru lebih banyak berperan sebagai fasilitator dan siswa dirangsang untuk berpartisipasi dalam pola interaktif, sehingga memungkinkan adanya umpan balik secara langsung.
2)      Menggunakan media audio-visual terutama ditujukan untuk kasus khusus, yang tidak ditemui di lapangan sekitar, untuk memberikan pemahaman yang lebih baik.
3)      Melatih keterampilan berkomunikasi, mengasah kemampuan berpikir kritis, keterampilan mengolah informasi, memecahkan masalah khusus dan keterampilan kontekstual.
4)      Meningkatkan keterampilan teknis dan prosedural, kemampuan membaca dan mengerjakan hal-hal teknis di laboratorium dan di lapangan.
5)      Meningkatkan peran serta dalam kelompok untuk meresolusikan konflik, bekerja dalam kelompok, memimpin kelompok, berkomunikasi antar individu dan antar kelompok serta memahami adanya ketentuan-ketentuan dan peraturan yang harus ditaati.
Soemintapoera (2010), menyebutkan tujuan umum praktikum adalah sebagai jembatan penghubung atau alat untuk mengintegrasikan antara teori dan praktek, karena pada hakikatnya ide dasar praktikum adalah sejalan dengan upaya untuk mengimplementasikan gagasan kurikulum berbasis kompetensi. Sedangkan manfaat praktikum adalah: 1) melatih keterampil, 2) mengintegrasikan pengetahuan dan keterampilan, 3 pembuktian ilmiah, 4) menghargai ilmu dan pengetahuan yang dimiliki, 5)  pengalaman bekerjasama.
            Nuryani (2005) mengemukakan empat alasan mengenai pentingnya kegiatan praktikum:
1)      Praktikum membangkitkan motivasi belajar Sains. Belajar siswa dipengaruhi oleh motivasi, siswa yang termotivasi untuk belajar akan bersungguh-sunguh dalam mempelajari sesuatu.
2)      Praktikum mengembangkan keterampilan dasar melakukan eksperimen. Melakukan eksperimen merupakan kegiatan yang banyak dilakukan oleh para ilmuwan. Untuk melakukan eksperimen ini diperlukan beberapa keterampilan dasar seperti mengamati, mengukur, memanipulasi peralatan biologi.
3)      Praktikum menjadi wahana belajar pendekatan ilmiah. Banyak para pakar pendidikan Sains meyakini bahwa cara yang terbaik untuk belajar pendekatan ilmiah adalah dengan menjadikan siswa scientis. Beberapa pakar pendidikan mempunyai pandangan berbeda terhadap kegiatan praktikum, seperti misalnya: model praktikum induktif, model praktikum vervikasi dan metode inkuiri.
4)       Praktikum menunjang materi pelajaran. Kegiatan praktikum memberi kesempatan bagi siswa untuk menemukan  teori, dan membuktikan teori. Selain itu praktikum dalam pelajaran biologi dapat membentuk ilustrasi bagi konsep dan prinsip biologi. Dari kegiatan-kegiatan tersebut dapat disimpulkan bawha praktikum dapat menunjang pemahaman siswa terhadap materi pelajaran.

1.7 Hasil Belajar
Hasil belajar adalah kemampuan siswa dalam memenuhi suatu tahapan pencapaian pengalaman belajar dalam satu kompetensi dasar. Hasil belajar dalam silabus berfungsi sebagai petunjuk tentang perubahan perilaku yang akan dicapai oleh siswa sehubungan dengan kegiatan belajar yang dilakukan, sesuai dengan kompetensi dasar dan materi yang dikaji. Hasil belajar bisa berbentuk pengetahuan, keterampilan, maupun sikap (Kunandar, 2007). Selanjutnya menurut Dimyati dan Mujiono (2006) hasil belajar merupakan hasil dari suatu interaksi tindakan belajar dan tindakan mengajar. Dari sisi guru, tindakan mengajar diakhiri dengan evaluasi hasil belajar. Dari sisi siswa, hasil belajar merupakan berakhirnya puncak proses belajar
Menurut Sardiman (2009), Tujuan belajar itu adalah untuk mendapatkan pengetahuan, penanaman konsep, dan pembentukan sikap. Ketiga hasil belajar tersebut dalam pengajaran merupakan tiga hal yang secara perencanaan dan programatik terpisah, namun dalam kenyataannyan pada diri siswa akan merupakan satu kesatuan yang utuh dan bulat. Ketiganya itu dalam kegiatan belajar mengajar, masing-masing direncanakan sesuai dengan butir-butir bahan pelajaran.
Menurut Sudjana (2009), secara garis besar hasil belajar dibagi menjadi tiga ranah, yaitu:
1)      Ranah kognitif, berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari enam aspek, yakni pengetahuan atau ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi.
2)      Ranah afektif, berkenaan dengan sikap yang terdiri dari lima aspek, yakni penerimaan, jawaban atau reaksi, penilaian, organisasi, dan internalisasi.
3)      Ranah psikomotorik, berkenaan dengan hasil belajar keterampilan dan kemampuan bertindak yang meliputi enam aspek, yakni gerakan refleks, keterampilan gerak dasar, kemampuan perseptual, keharmonisan atau ketepatan, gerakan keterampilan kompleks, dan gerakan ekspresif dan interaktif.

1.7  Pengaruh Pembelajaran Kooperatif Tipe TPS dengan Menggunakan Praktikum Terhadap Peningkatan hasil Belajar IPA Biologi

Ibrahim, dkk (2000), berpendapat bahwa pembelajaran struktural Think Pair Share (TPS) memiliki prosedur yang ditetapkan secara ekspilit untuk memberikan siswa waktu lebih banyak untuk berpikir, menjawab pertanyaan dan membantu satu sama lain.
Hasil belajar adalah suatu tindakan atau kegiatan untuk melihat sejauh mana tujuan proses pembelajaran yang telah dicapai atau dikuasai oleh siswa (Sudjana, 2009). Peningkatan hasil belajar biologi sebaiknya diarahkan kepada kegiatan yang mendorong siswa aktif secara fisik, sosial maupun psikis dalam memahami konsep. Model pembelajaran kooperatif tipe think pair share adalah jenis pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa (Trianto, 2009)
Untuk meningkatkan hasil belajar dapat dilakukan dengan penerapan pembelajaran tipe TPS dengan praktikum. Penerapan pembelajaran memungkinkan  siswa mendapat informasi yang sangat akurat dan siswa  bisa berpikir kritis tidak hanya bersifat pasif, sehingga aktivitas belajar siswa lebih meningkat. Penggunaan praktikum dalam proses pembelajaran merupakan upaya memperjelas pengertian pada perserta didik dan membantu para guru untuk mencapai tujuan dengan melakukan percobaan sendiri setelah mendapatkan teori. Disimpulkan bahwa untuk meningkatkan hasil belajar siswa diperlukan suatu tuntunan yaitu dengan penerapan pembelajaran tipe TPS dengan menggunakan praktikum.

2. Penelitian yang Relevan
            Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Yulianti (2008) dapat diketahui bahwa “penerapan pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) terhadap hasil belajar biologi kelas XI IPA 1 SMAN 7 Pekanbaru tahun ajaran 2008/2009 telah terbukti meningkatkan hasil belajar biologi. Ketuntasan belajar biologi pada siklus 1 rata-rata 85,5 dan  siklus 2 rata-rata hasil belajar biologi yaitu 94,16.
Penelitian yang dilakukan Sinaga (2003) dapat diketahui bahwa pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) untuk meningkatan minat belajar biologi siswa SLTP Negeri 1 Siak Hulu tahun ajaran 2002/2003 telah terbukti meningkatkan minat belajar biologi. Juga oleh Nurhasanah (2009)  pelaksanaan praktikum untuk meningkatkan hasil belajar IPA siswa kelas VIIC SMPN 17 Pekanbaru tahun ajaran 2008/2009. Telah terbukti meningkatkan hasil belajar belajar biologi.
E. Metodologi Penelitian
1. Waktu dan Tempat Penelitian
Dengan jadwal penelitian (Lampiran) 1).

            Penelitian ini akan dilaksanakan di kelas VII SMPN 1 Siak Hulu dari bulan Desember sampai April Tahun Ajaran 2012/2013. Pengambilan data penelitian dilakukan bulan Maret sampai April Tahun Ajaran  2012/2013.
2. Subjek Penelitian
Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas VII SMPN 1 Siak Hulu Tahun Ajaran 2012/2013 yang berjumlah 40 orang yang terdiri  dari 18 orang siswa laki-laki dan 22 orang siswa perempuan. Dalam penelitian ini siswa dibagi dalam 20 kelompok yang beranggotakan 2 orang atau sepasang yang dipilih secara heterogen berdasarkan kemampuan akademik (siswa berkemampuan tinggi, sedang, dan rendah). Kelas ini dipilih karena nilai akademik siswa lebih rendah dibandingkan kelas lainnya.

3. Metode dan Desain Penelitian
Penelitian ini menggunakan bentuk penelitian tindakan kelas (PTK). Menurut Arikunto (2008), penelitian tindakan kelas merupakan suatu pencermatan terhadap kegiatan belajar berupa sebuah tindakan, yang sengaja di munculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara bersama.
Dalam proses pembelajaran dikenal juga istilah desain pembelajaran, jika strategi pembelajaran lebih berkenaan dengan pola umum dan prosedur umum aktifitas pembelajaran, sedangkan desain pembelajaran lebih menunjuk kepada cara-cara merencanakan suatu sistem lingkungan belajar tertentu setelah ditetapkan strategi pembelajaran tertentu. Sedangkan desain adalah menetapkan cetak biru (blue print) yang akan dibangun beserta bahan-bahan yang diperlukan dan urutan-urutan langkah konstruksinya, maupun kriteria penyelesaiannya, mulai dari tahap awal sampai dengan tahap akhir, setelah ditetapkan tipe yang akan dibangun (Elfis, 2010c). Desain PTK dapat dilihat pada gambar 1 berikut ini:






Pembelajaran Biologi
Penerapan Pembelajaran Kooperatif Tipe  Think Pair Share (TPS) dengan Praktikum
Alternatif Pemecahan :
Penerapan pembelajaran TPS dapat membuat siswa lebih aktif, interaktif serta dapat memotivasi siswa untuk belajar sehingga diperoleh hasil belajar yang yang lebih baik sesuai dengai KKM
Permasalahan :
1)   Siswa kurang aktif dalam proses kegitan belajar mengajar
2)   Siswa tidak memperhatikan penjelasan materi yang diajarkan
Perencanaan tindakan
Siklus 1

Pelaksanaan tindakan I
Analisis Data
Observasi
( Monitoring )
Refleksi
Terselesaikan
Pelaksanaan Tindakan II
Alternatif Pemecahan (Rencana Tindakan II)
Permasalahan Belum Terselesaikan
Siklus 2
 



















Analisa Data
Observasi (Monitoring)
Refleksi



Terselesaikan
Permasalahan belum terselesaikan
                                                                                               
                                                                                           Siklus Selanjutnya

Peningkatan Hasil Belajar
 


Gambar 1. Desain Penelitian Tindakan Kelas Peningkatan Hasil Belajar Pengetahuan Pemahaman Konsep Biologi dengan Penerapan Pembelajaran Kooperatif Tipe  Think Pair Share (TPS) dengan  Praktikum (Modifikasi dari Elfis, 2010b)
4. Prosedur Penelitian
Penelitian tindakan kelas (PTK) ini akan dilaksanakan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1)      Tahap persiapan
a)   Menetapkan kelas tindakan yaitu kelas VII SMPN 1 Siak Hulu Tahun Ajaran 2012/2013.
b)    Kelas tindakan diajarkan dengan model pembelajaran kooperatif tipe TPS dengan menggunakan praktikum.
c)    Menetapkan materi pelajaran.
d)     Membagi siswa ke dalam 20 kelompok dimana pada setiap kelompok memiliki kemampuan yang berbeda-beda dimana terdiri 2 orang dalam satu kelompoknya.
e)   Melaksanankan model pembelajaran kooperatif tipe TPS dengan   menggunakan praktikum.
2)      Tahap pelaksanaan
No
Kegiatan
Guru
Peserta Didik
1
Kegiatan awal (10 menit)
·      Menyapa siswa dan memberikan salam
·      Motivasi dan apersepsi dengan mengajukan pertanyaan kepada peserta didik
·       Menuliskan tujuan pembelajaran

·       Menjawab salam dan mempersiapkan diri untuk KBM
·       Menjawab pertanyaan yang di berikan oleh guru
·   Memahami dan mencatat tujuan pembelajaran
2
Kegiatan inti (55 menit)
·   Menjelaskan materi secara garis besar.
·   Membagi lembaran pengamatan.
·   Tahap berfikir (Thinking)
-    Membawa peserta didik keluar kelas menuju lapangan atau halaman sekolah.
-    Membimbing peserta didik dalam melaksanakan praktikum dan mengisi lembaran praktikum.
·   Tahap berpasangan (Pairing)
-    Mengajak peserta didik kembali ke kelas dan duduk berpasangan dengan teman sebangku.
-    Meminta peserta didik berpasangan mendiskusikan hasil pengamatan.
·  Tahap berbagi (Sharing)
Guru menyuruh beberapa pasangan secara acak mempresentasikan hasil diskusinya di kelas.
·  Memberi penguatan pada hasil diskusi dan menyampaikan jawaban yang benar

·   Mendengarkan penjelasan guru
·   Mengajukan pertanyaan yang belum dimengerti
·   Menerima lembaran pengamatan
·   Tahap berfikir (Thinking)
-    Mengikuti guru ke lapangan untuk mengamati
-    Melaksanakan praktikum dan bertanya kepada guru tentang materi yang belum dipahami dan mengisi lembaran pangamatan.
·   Tahap berpasangan (Pairing)
-    Mengikuti guru untuk kembali ke kelas dan duduk dengan teman sebangku
-    Mendiskusikan hasil pengamatan dengan teman sebangku.
·  Tahap berbagi (Sharing)
setiap pasangan yang ditunjuk guru maju mempresentasikan hasil diskusinya.
· Menyimak penguatan dan mencatat jawaban yang benar

3
Kegiatan akhir (15 menit)
·  Menyimpulkan materi pelajaran
·  Memberikan evaluasi
·  Memberikan penghargaan pada kelompok yang mendapat poin tertinggi

·    Mencatat kesimpulan pembelajaran
·    Menjawab soal yang diberikan guru pada saat evaluasi
·    Menerima penghargaan

5. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data terdiri dari dua bagian yaitu perangkat pembelajaran guru dan instrument pengumpulan data.
5.1 Perangkat pembelajaran Guru
Perangkat pembelajaran guru terdiri dari:
1)      Silabus
Silabus merupakan suatu pedoman yang disusun secara sistematik oleh peneliti yang merupakan penjabaran standar kompetensi dan kompetensi dasar kedalam materi pokok, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian.
2)   Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
RPP adalah sebagai pedoman yang disusun secara sistematik oleh peneliti berisikan langkah-langkah penyampaian materi pembelajaran yang sesuai dengan rincian waktu yang ditentukan.


3)   Lembar Kegiatan Peserta Didik (LKPD)
LKPD adalah sebagai pedoman yang dibuat guru yang akan diberikan pada siswa saat pelaksanaan pratikum.
4)   Buku panduan siswa
Buku panduan siswa adalah buku pegangan yang digunakan siswa sebagai pedoman dalam pembelajaran.
5)   Soal kuis beserta kunci jawaban.
6)   Soal ujian blok beserta kunci jawaban.

5.2 Instrumen Pengumpulan Data
Instrumen pengumpulan data yang digunakan adalah penilaian tes tertulis dan penilaian unjuk kerja, yaitu:
1)        Penilaian tes tertulis
Penilaian tes tertulis dilakukan untuk melihat peningkatan hasil belajar ranah kognitif siswa yang digunakan sebagai sumber penelitian pengetahuan pemahaman konsep. Penilaian PPK diambil dari ujian ketuntasan blok dalam bentuk 15 soal tes objektif dan 5 soal essay. Selanjutnya latihan dari post tes dan tugas rumah.
2)        Penilaian unjuk kerja
       Penilaian unjuk kerja dilakukan untuk melihat peningkatan hasil belajar yang merupakan sumber penilaian KI. Penilaian unjuk kerja ini diperoleh dari presentase, nilai portofolio dari LKPD dan laporan makalah (Lampiran 4)

6.1 Teknik Pengolahan Data Hasil Belajar PPK
6.1.1 Pengolahan Data Hasil Belajar PPK
Menurut Elfis (2010c), nilai PPK di ambil dari nilai tugas (T), nilai pekerjaan rumah (PR), nilai Kuis tertulis (K) dan ujian blok (UB). Masing-masing nilai ini akan di gabungkan dengan rumusan sebagai berikut:
NUB PPK = 60% x (Rata-rata T, PR, QT) + 40% x UB


6.1.2 Pengolahan Data Hasil Belajar KI
Selanjutnya menurut Elfis (2010c), nilai kinerja ilmiah (KI) diperoleh dari nilai portofolio (makalah), serta nilai unjuk kerja (presentasi LKPD dalam keaktifan siswa bertanya, siswa menjawab). Masing-masing nilai akan digabungkan dengan rumusan sebagai berikut:
KI = 40% x (rata-rata nilai portopolio) + 60% x (rata-rata nilai unjuk kerja)

6.2 Teknik Analisis Data Dekriptif
Pengolahan data dengan teknik analisis deskriptif bertujuan untuk mendeskripsikan hasil belajar biologi siswa sesudah penerapan model pembelajaran kooperatif dengan praktikum. Menurut Elfis (2010c), analisis data hasil pencapaian belajar biologi siswa dilakukan dengan melihat a) daya serap, b) ketuntasan individu dan c) ketuntasan klasikal. Analisis daya serap, ketuntasan individu, dan ketuntasan klasikal didasarkan pada pencapaian hasil belajar siswa melalui dua kelompok penilaian, yaitu penilaian pencapaian hasil belajar pemahaman dan penerapan konsep (PPK) dan penilaian pencapaian hasil belajar kinerja ilmiah (KI).
Adapun kriteria penentuan pencapaian hasil belajar siswa adalah sebahai berikut:
(a)    Daya Serap siswa
Untuk mengetahui daya serap siswa dari hasil belajarnya digunakan analisis dengan menggunakan rumus berikut:

Daya serap =   Jumlah skor yang diperoleh siswa    X 100
Jumlah skor maksimum

Setelah diperoleh nilai daya serap siswa, selanjutnya dikonversikan ke dalam kriteria tabel berikut:




Tabel 2: Interval dan Kategori Daya Serap Siswa
%  Interval
Kategori
90 – 100
76 – 89
67 – 75
50 – 66
≤ 50
Amat Baik
Baik
Cukup
Kurang
Kurang Sekali
     Sumber: dimodifikasi berdasrkan KKM SMPN 29 pekanbaru

(b)   Ketuntasan individu siswa
Menurut Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas (2008) dalam Elfis (2010c), seorang siswa dikatakan tuntas dalam belajar apabila mencapai daya serap minimal 75%  terhadap pemahaman materi yang dipelajarinya berdasarkan tolak ukur Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Di SMPN 29 Pekanbaru, Nilai KKM ditetapkan 67. Ketuntasan individu siswa adalah ≥ 67

(c) Ketuntasan Klasikal
Menurut Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas (2008) dalam Elfis (2010c), suatu kelas dinyatakan tuntas belajar apabila sekurang-kurangnya 85% dari jumlah siswa telah tuntas belajar. Ketuntasan dapat dihitung dengan menggunakan rumus:
                                               
Keterangan:
KK      : Presentase ketuntasan klasikal
JST      : Jumlah siswa yang tuntas dalam kelas perlakuan (tolak ukur KKM)








F. DAFTAR PUSTAKA
Ali, M. 2009. Paradigma Belajar IPA Biologi. Available at: http: //nizamudinshamazia.wordpress.com. Diakses 17 Februari 2013.
Arikunto, S. 2008. Penelitian Tindakan Kelas. Bumi Aksara. Jakarta.
Arsyad, A. 2010. Media Pembelajaran. Rajawali Press. Jakarta.

Elfis. 2009. Model RPP dengan Berbagai Model Pembelajaran. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Islam Riau: Pekanbaru (tidak dipublikasikan)
Elfis. 2010a. Konstruktivistik dalam Pembelajaran biologi. Available ata; http://elfisuir/.blogspot.com. Diakses 20 September 2010.
Elfis. 2010b. Alur PTK. Available a. http://elfisuir.blogspot.com. Diakses 20 September 2010.
Elfis, 2010c. Teknik Analisis Data. Available at: http://elfisuir/.blogspot.com. Diakses: 20 Setember 2010.
Djamarah dan Zain. 2006. Strategi Belajar Mengajar. Rineka Cipta. Jakarta.
Dimyati dan Mudjiono. 2006.  Belajar dan Pembelajaran. Rineka Cipta. Jakarta.
Heru, 2010. Arti dan Tujuan Praktikum. http://heru-id.blogspot.com. Diakses 25 Desember 2010.
Hamalik, O. 2007. Manajemen Pengembangan Kurikulum. PT Remaja Rosdakarya: Bandung.
Hamalik, O. 2008. Kurikulum dan Pembelajaran. Bumi Aksara. Jakarta.
Ibrahim, dkk. 2000. Pembelajaran Kooperatif. Universitas Negeri Surabaya: Surabaya.
Kunandar. 2007. Guru Profesional. Grafindo Persada. Jakarta.
Lie, A. 2010. Cooperatif Learning. Grasindo. Jakarta.
Mudjiono Dan Dimyati. 2006.  Belajar dan Pembelajaran. Rineka Cipta. Jakarta.
Nurhasanah. 2009. Pelaksanaan Praktikum Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Biologi Siswa Kelas  VIIc SMPN 17 Pekanbaru Tahun Ajaran 2008/2009. Skripsi Program Studi Biologi-FKIP-UIR. Pekanbaru.
Nuryani, R. 2005. Strategi Belajar Mengajar. UM Press. Malang.
Sanjaya . W. 2008. Strategi Pembelajaran. Kencana. Jakarta.
Sanjaya, W. 2009. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Kencana. Jakarta.
Sardiman. 2009. Interaksi dan Motivasi Belajar-Mengajar,PT. Raja Grafindo Jakarta.
Sari, L. 2008. Penerapan Pembelajaran Kooperatif Think Pair Share (TPS) Terhadap Aktivitas Belajar dan Kesadaran Metakognisi Siswa KelasnXI IPA 1 SMAN 7 Pekanbaru Tahun Ajaran 2008/2009. Skripsi Program Studi Biologi-FKIP-UIR. Pekanbaru.
Sinaga. 2003. Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair Share (TPS) Untuk Meningkatkan Belajar Biologi Siswa SLTP Negeri 1 Siak Hulu tahun ajaran 2002/2003. Skripsi Program Studi Pendidikan Biologi-FKIP-UIR. Pekanbaru.
Sudjana, N. 2009. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Remaja Rosdakarya. Bandung.
Soemintapoera, A. 2010. Praktikum. http://www.faperta.unpad.ac.id. Diakses 25 Desember 2010.
Trianto. 2009. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif Progresif. Kencana.    Jakarta.
Trianto. 2010. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif, Progresif, Konsep, Landasan dan Implementasinya Pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Kencana. Jakarta.
Yamin, M. 2009. Strategi Pembelajaran Berbasis Kompetensi, Gaung Persada Press. Jakarta.
Yulianti, S. 2008. Pembelajaran Kooperatip Tipe Think Pair Share (TPS) Terhadap Hasil Belajar Biologi Siswa Kelas XI IPA1 SMAN 7 Pekanbaru Tahun Ajaran 2008/2009. Skripsi Program Studi Pendidikan Biologi-FKIP-UIR. Pekanbaru.
Zubaidah, S. 2010. Pembelajaran Kolaboratif Dan Group Investigation Sebagai Salah Satu Teknik Pembelajaran Kooperatif. Makalah Disampaikan Pada Seminar Nasional Pendidikan Biologi Pada Tanggal 12 Juni 2010. Di Universitass Islam Riau.